Metafora Matematika

METAFORA MATEMATIKA

Judul Buku : Metafora Matematika

Penulis : Restia Ningrum

Penerbit : Universitas Brawijaya Press

Cetakan : I, Agustus 2014

Tebal : 230 halaman

ISBN : 978-602-203-669-2

Harga Buku : Rp 94.300

.

.

“Pada tiap entitas kaca

Lensa yang retak pada ilustrasi

Antara myopia dan sentimentalia bola mata

Dan diksi ialah jalan pintas memangkas skeptis ini”

Itulah sebait cuplikan dari puisi kwatrin Restia yang berjudul Kwatrin Kacamata, sebuah penggambaran dari kacamata dan nuansa dalam pandangan pemakainya. Restia mencoba mengemas pengalaman dan ekspresi dari sebuah benda bernama kacamata dalam gugusan kalimat-kalimat puisi yang indah. Uniknya, ia tidak segan menggunakan kata-kata ilmiah dalam menyusun puisi-puisinya. Istilah-istilah scientific mudah kita temui di buku ini, seperti penggunaan kata Linear Algebra dalam puisi ‘Untuk R’, kata absolute inequality dalam puisi ‘Di Tahun Imajiner’, kata improper integrals dalam puisi ‘Monolog dari Bilik Imajiner’ dan masih banyak lagi istilah ilmiah lainnya. Tidak mengherankan, mengingat Restia, penulis buku antalogi ini adalah mahasiswa FMIPA sehingga sisipan-sisipan istilah eksak bisa dimaklumi keberadaannya.

Puisi-puisi dalam Metafora Matematika ini berisi 18 tema besar yang terdiri dari beragam persoalan yang bertitik berat pada kehidupan, seperti tentang uang dan dominasinya terhadap aktivitas manusia, pengamen jalanan dan harapannya, langit dan apresiasinya, bangsa dan nasionalisme, serta ibu dengan segala jasanya. Ia bahkan mempotret soal keresahan siswa sekolah dalam puisi ‘Kepada Adik yang akan Ikut Ujian Nasional’, soal yang jarang kita temui di dalam puisi. Dalam puisi tersebut, terselip kalimat jangan pikirkan soal yang esok kau kerjakan, walaupun kata orang, esok itu penentuan hidup matimu tiga tahun di sekolah menengah. Melalui puisi ini, ia mengajak adik-adik yang sedang bersekolah dasar, menengah atau sekolah tinggi, untuk tetap optimis dan menghilangkan stigma takut terhadap ujian nasional. Ada juga puisi berjudul ‘Di Ruang Ujian’ yang ditulis oleh Restia saat mengerjakan soal ON MIPA 2013.

…masih menekur intuisi pagi

Dan paradoks gerak jari yang samarkan absurditas

Dan angin berkesiur eksponensial

Dan ruang ujian begitu magis mengabur bias…

Bisa dilihat, bahwa puisi tersebut selain mencerminkan dimensi pengalaman penulis dalam rutinitas belajarnya, juga mencerminkan kepiawaian penulis memilih kata dan gaya bahasa. Restia mencoba mengemas tiap aspek kehidupan tersebut dalam untaian kata-kata yang tersusun apik. Ia berhasil menularkan rasa dan kesadaran kepada pembaca tentang kondisi yang kerap kita temui sehari-hari, ketika kita membaca puisi-puisinya yang sarat makna. Secara umum, meskipun desain cover-nya biasa saja, buku ini bisa dibilang cukup baik dari segi konten maupun penyajian kata-kata dan maksudnya yang cukup mudah untuk ditarik esensinya. Pilihan kata dan gaya bahasa yang tidak biasa rupanya mampu menjadi ciri khas tersendiri dalam antologi ini. Jika Anda suka membaca buku-buku antologi atau suka membuat karya puisi, buku ini cocok untuk menjadi bahan bacaan atau bahan referensi Anda.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Isian wajib ditandai *