Petani Tanpa Tapal Batas

petani

Penulis            : Junaedi

Penerbit           : Universitas Brawijaya Press

Cetakan           : I, April 2014

Tebal               : 132 halaman

ISBN              : 978-602-203-613-5

Harga Buku    : Rp 70.800

Permasalahan yang dihadapi oleh petani Indonesia beragam. Sebagian besarnya berkutat di soal kebijakan pemerintah yang sampai saat ini belum pro petani, soal revolusi sarana dan prasarana pertanian, soal permodalan dan kebijakan harga produk tani, soal dukungan modal, soal pertanahan dan distribusi, soal kemiskinan petani itu sendiri, dan lain-lain. Dampak dari persoalan-persoalan tersebut adalah melemahnya daya saing dan kesejahteraan petani, dan secara makro, melemahnya ketahanan pangan nasional.

Junaedi, penulis buku ini, membagikan hasil pemikirannya tentang banyak hal yang berkaitan dengan kondisi pertanian di Indonesia. Seperti yang banyak diketahui, pemerintah melakukan impor beras untuk menopang kebutuhan pangan nasional. Efeknya, produksi beras nasional kalah laku dengan beras impor sehingga pendapatan para petani menurun secara signifikan. Impor beras yang terus menerus juga semakin menjauhkan pencapaian swasembada beras yang telah dicita-citakan sejak lama.

Berbicara tentang ketahanan pangan, pada dasarnya banyak jalan menuju ke arah itu. Bisa melalui ekstensifikasi dan intensifikasi alat-alat pertanian, serta diversifikasi pangan. Selain itu, melalui penataan pola konsumsi yang tidak tergantung pada satu sumber pangan, memungkinkan masyarakat dapat menetapkan pangan pilihan sendiri, menaikkan pamor pangan lokal untuk menggantikan atau setidak-tidaknya berdampingan dengan beras menjadi menu utama, dan membangkitkan ketahanan pangan keluarga masing-masing, yang berujung pada peningkatan ketahanan pangan nasional (halaman 56).

Hambatan yang ditemui dalam usaha diversifikasi pangan, antara lain: rendahnya pengetahuan sebagian besar masyarakat Indonesia sehingga sulit untuk mengedukasi mereka, kesulitan merubah adat kebiasaan makan, diposisikannya beras sebagai makanan pokok unggulan, rasa dari beras sendiri yang lebih sesuai dengan lidah masyarakat, suplai beras yang ada di pasaran, kurangnya peran dari stakeholder di luar pemerintah dalam mengembangkan pangan alternatif, dan terakhir, kurangnya komitmen pemerintah.

Buku ini adalah hasil buah pikir dari keresahan-keresahan penulis melihat kondisi pertanian dan pedesaan di negara ini yang memprihatinkan. Tulisan yang disajikan dalam buku ini merupakan opini penulis yang telah dimuat di berbagai surat kabar, sehingga sebagaimana opini, ia tidak didapatkan melalui sistematika penelitian yang ilmiah namun dari olah pikir pribadi. Meskipun begitu, secara isi, nilai bahasan dalam buku ini terbilang cukup tinggi karena memaparkan kondisi pertanian dan pedesaan Indonesia dari berbagai sisi, dari sisi sosial, pemerintahan, dan agama.

Junaedi bahkan memandang bahwa diperlukan landasan agama untuk menumbuhkan semangat bertani para petani. Dalam agama Islam, Hadis Riwayat Bukhari dan Muslim menyatakan bahwa Nabi Muhammad SAW pernah berkata bahwa setiap muslim yang menanam suatu tanaman, kemudian tanamannya itu dimakan oleh burung, manusia atau hewan, maka itu akan menjadi sedekah baginya. Pemahaman-pemahaman teologis semacam ini dapat membantu petani untuk menyelami profesinya sendiri dan melakukannya dengan baik. Menjadi petani tidak hanya sebagai upaya pemenuhan produksi pangan,tetapi lebih dari itu, bertani merupakan bentuk peribadatan yang sarat pahala (halaman 60-62).

Selain paparan opini dan informasi mengenai berbagai kendala dan hambatan di bidang pertanian, penulis juga memberikan sumbangsih saran atas tiap persoalan sehingga buku ini sangat layak untuk dijadikan sumber bacaan pengetahuan bagi pembaca agar lebih memahami situasi yang dihadapi petani Indonesia. Syukur syukur  nantinya pembaca dapat berkontribusi dalam mendukung usaha perbaikan nasib petani (ajemi).

 

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Isian wajib ditandai *