Resensi : Hukum Perkawinan Campuran (Eksogami) Ala Masyarakat Hukum Adat Tengger

hukum

Judul Buku     : Hukum Perkawinan Campuran (Eksogami) Ala Masyarakat Hukum Adat Tengger

Penulis            : Jazim Hamidi

Dani Harianto

Penerbit           : Universitas Brawijaya Press

Cetakan           : I, Februari 2014

Tebal               : 106 halaman

ISBN              : 978-602-203-600-5

 

Masyarakat Tengger adalah masyarakat yang tinggal di pegunungan Tengger yang terletak di Kabupaten Malang, Probolinggo, Jember, dan Lumajang. Mereka memiliki karakter social, budaya, politik, dan agama yang berbeda-beda. Sebagian besar mereka sampai saat ini masih memegang adat istiadat dan budaya dari leluhur pendahulunya dalam berbagai aspek kehidupan. Hukum adat dalam pola-pola kehidupan masyarakat Tengger masih dijunjung tinggi, baik dalam cara bersosialisasi, cara bekerja, dan cara beribadah.

Namun begitu, masyarakat Tengger merupakan masyarakat yang adaptif terhadap perubahan social, salah satunya di bidang ekonomi. Perkembangan teknologi pada bidang pertanian misalnya, mampu meningkatkan pendapatan warga Tengger yang sebagian berprofesi sebagai petani. Kemajuan dalam bidang ekonomi tersebut tentu saja merupakan sebuah keberhasilan dari pengelolaan sumber daya alam yang ada yang ditunjang oleh kemajuan pola pikir dan penerimaan terhadap perkembangan teknologi untuk pengelolaan di bidang-bidang lain yang menunjang hasil inovasi masyarakat Tengger itu sendiri (halaman 22).

Tidak hanya di bidang ekonomi, keterbukaan informasi dan semakin majunya sarana prasarana yang dibangun, serta majunya tingkat pendidikan, memicu perubahan juga di aspek social kemasyarakatan masyarakat Tengger, sebut saja dalam kasus perkawinan. Masyarakat Tengger telah lama menganut adat perkawinan endogami dimana perkawinan dilakukan antara suku yang sama, yaitu sama-sama masyarakat Tengger. Namun seiring dengan berjalannya waktu, sampai saat ini banyak juga masyarakat Tengger yang menikah dengan orang-orang yang berasal dari luar suku Tengger.

Dampak dari adanya perkawinan campuran ini beragam, diantaranya adalah masuknya budaya Bali dalam adat Tengger, pengaruh budaya Jawa, dan munculnya aliran rasionalis di Tengger. Masuknya budaya Bali dalam budaya Tengger adalah akibat dari perkawinan warga Tengger dengan warga Bali. Selain itu, anak-anak muda Tengger yang berniat menimba ilmu tentang agama Hindu ke Bali, pulang ke Tengger dengan membawa serta adat-adat budaya Bali. Sedangkan pengaruh Jawa yang muncul dalam budaya Tengger adalah masuknya kesenian Jawa seperti wayang kulit dan tayub. Tengger sendiri dulunya adalah bagian dari kerajaan Jawa, Majapahit, yang kemudian dibebaskan dari pembayaran pajak.

Pengaruh selanjutnya yaitu munculnya penganut-penganut aliran rasionalis di tengah masyarakat Tengger. Mereka cenderung tidak mempercayai mitos atau kisah-kisah kuno yang dituturkan oleh pemuka adat. Mereka yang mempunyai pola pikir demikian cenderung tidak mau melaksanakan kegiatan-kegiatan adat atau upacara-upacara adat yang sudah menjadi tradisi masyarakat Tengger (halaman 88).

Buku ini hadir sebagai kajian dan penjabaran perihal perkawinan campuran dalam hukum adat Tengger sebagai efek dari akulturasi budaya dan globalisasi. Bahasan bab per bab dalam buku ini mencakup soal realitas social dalam masyarakat Tengger, sejarah dan konsep hukum perkawinan campuran, serta soal perkawinan campuran masyarakat Tengger itu sendiri. Meskipun belum cukup mendalam, paparan yang diberikan dalam buku ini cukup untuk menjawab keingintahuan pembaca tentang bagaimana suatu perkawinan campuran di kalangan masyarakat Tengger itu terjadi dan apa saja implikasinya dalam kondisi social budaya masyarakat Tengger (jem).

Tengger is the communities who lived in Tengger mountainary located in the border of  Malang, Probolinggo, Jember, and Lumajang. They have different characters of social, cultural, political, and religions. Most of them still holds the customs and culture of the ancestral predecessors in various aspects of life until today. Customary law in the patterns of life of the Tengger people still held in high esteem, both in socialize, work, and worship.

However, Tengger is an adaptive society to social change, including in economy. Technological developments in agriculture for example, are able to increase the income of the Tengger people who mostly work as farmers. Advances in the field of economics, of course, is a success of natural resource management that is supported by advances mindset and acceptance of technological developments in order to manage other areas that support Tengger innovation product itself (page 22).

Not only in the economic field, the disclosure of information and the more advanced infrastructure built, as well as the advancement of education level, also triggering a change  in the social aspects of Tengger community, in the case of marriage for example. Tengger community has long embraced traditional endogamous marriage where the marriage performed between the same tribe, they both Tengger. But over time, there are many Tengger people who are married to people who come from outside the Tengger tribe.

The impact of the presence of a mixed marriage is diverse, including the inclusion of traditional Balinese culture in Tengger, the influence of Javanese culture, and the advent of rationalist stream in Tengger. The entry of the culture of the Balinese culture is a result of the marriage of Tengger residents with Bali residents. In addition, young people of Tengger who intend to study about Hinduism in Bali, bring the Balinese culture back to Tengger. While the influence of Javanese culture that emerged in the Tengger is the influx of Javanese arts such as wayang kulit and tayub. Tengger itself was once part of the kingdom of Java, Majapahit, which is then released from the payment of taxes.

The next effect is the emergence of adherents rationalist stream in the middle of Tengger people. They tend not to believe in the myth or ancient stories spoken by indigenous leaders. Those with this mindset tend not to want to carry out the activities customary or traditional ceremonies that have become a tradition Tengger (page 88).

This book comes as a study and elaboration regarding mixed marriages in Tengger customary law as the effects of acculturation and globalization. Chapter by chapter in this book covers about social reality in Tengger, history and the concept of a mixed marriage law, as well as the matter of intermarriage Tengger itself. Although it is not deep enough, the exposure given in this book is enough to answer the reader’s curiosity about how a mixed marriage among Tengger happen and what are the implications in the social and cultural conditions of the people of Tengger (jem).

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Isian wajib ditandai *