Workshop Pengembangan Penerbitan untuk Perguruan Tinggi

Workshop Pengembangan Penerbitan untuk Perguruan Tinggi

Dengan tema:

“Pengembangan Peran dan Manajemen Pengelolaan Penerbit Perguruan Tinggi di Indonesia”

Pada tanggal 23 – 24 Mei 2014, UB Press berpartisipasi mengikuti Workshop Pengembangan Penerbitan Perguruan Tinggi yang diadakan oleh: Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, bekerjasama dengan Politeknik Negeri Media Kreatif Jakarta dan didukung oleh APPTI. Tujuan acara tersebut adalah untuk meningkatkan kualitas serta daya saing penerbitan perguruan tinggi, khususnya yang tergabung dalam Asosiasi Penerbit Perguruan Tinggi Indonesia (APPTI), dalam menghadapi era ekonomi kreatif. ini perlu mengembangkan model “noble industry”.

Acara berlangsung di Gedung Driyakarya, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta, dengan pemateri: 1. Drs. Frans Parera, dari Polimedia Jakarta. 2. Dr. Elang Ilik Martawijaya, MM., dari IPB Press, 3. Drs. B. Rahmanto, dari Universitas Sanata Dharma. Dan acara ini dibuka oleh Rektor Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta, Dr. J. Eka Priyatma, M.Sc. Ph.D.


  •  Rektor Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta, Dr. J. Eka Priyatma, M.Sc. Ph.D., membuka acara workshop.

Pemateri Pertama: Drs. Frans Parera, mengingatkan kepada para penerbit kampus dalam memasuki era ekonomi kreatif, perlu mengembangkan model “noble industry”, yaitu industri yang bertujuan memuliakan manusia. Di Indonesia, ada banyak maestro, tetapi mereka tidak menulis untuk anak-anaknya. Hal ini yang membuat ilmu merosot.

    Ada tiga unsur yang harus dipenuhi oleh penerbit perguruan tinggi (university press) Sebagai noble industry, yaitu: 1. The quality of life; 2. Just in time; dan 3. artistic in touch. Hal ini perlu dilaksanakan oleh para pekerja pengetahuan (knowledge worker) dengan manajemen partisipatif.

Ada dua model strategi pengembangan University Press, yaitu: 1. Model Inggris, seperti yang dikembangkan oleh Oxford University Press. University Press tetap menjadi bagian dari universitas tetapi pada saat yang sama berkembang menjadi kapitalis dunia. 2. Model Amerika Serikat, seperti yang dikembangkan University Press di Amerika, yaitu: dengan membangun jaringan kerjasama. University Press dari Sabang sampai Merauke bisa bekerjasama dalam sebuah sistem manajemen partisipatif.

Penerbit Perguran Tinggi tidak hanya menerbitkan buku-buku untuk kepentingan komersial semata-mata. Tapi penting juga menerbitkan buku-buku untuk menaikkan martabat atau pencitraan (Vanity Publishing).

Terdapat dua model profit penerbit perguruan tinggi, yaitu: tangible profit (keuntungan berupa uang yang dapat dilihat dan dihitung) dan intangible profit (keuntungan yang tidak terlihat/dampak sebuah buku), atau uang versus impact.

Jangan takut mendudukkan University Press sebagai pedagang. Pedagang tidak lebih rendah dari professor. Inggris dan Amerika adalah kaum pedagang yang tetap mengembangkan etika dan penghormatan terhadap martabat manusia (noblesse oblige).

Sedangkan pemateri kedua Dr. Elang Ilik Martawijaya, MM., memaparkan bahwa Salah satu langkah strategis pengembangan Penerbit Perguruan Tinggi adalah dengan membuka toko buku (bookstore/campus corner), yaitu: tempat menjajaki siapa pembaca atau pelanggan, yang dilengkapi dengan tempat diskusi dan café shop.

Dari sudut kelembagaan, perlu dilakukan reposisi University Press. University Press tidak lagi hanya menjadi sebuah unit atau sub-unit kecil. Sebaliknya, University Press justru harus menjadi center of excellence perguruan tinggi, yang mampu memberikan tangible profit (uang) dan intangible profit (dampak).

Diperlukan strategi manajemen sensor (control quality) dengan pendekatan memberikan motivasi (bukan menghukum). Sehingga buku terbitannya dapat meraih hadiah nobel. Untuk itu diperlukan pembaca ahli (professor) yang dapat memberikan sensor yang memotivasi.

Penerbit Perguruan Tinggi perlu membedakan penulis menjadi dua segmen, yaitu: established writer (penulis yang sudah mapan dan sudah punya nama), dan promoted writer (penulis pemula yang masih perlu mendapat dukungan). Untuk itu diperlukan kebijakan yang diskriminatif (tidak menyamaratakan) terhadap dua segmen tersebut.

Dalam bidang pemasaran, ada tiga tipe buku, yaitu: 1. Buku yang lakunya lama (very slow moving), 2. Buku yang lakunya sedang (moderate moving), 3. Buku yang lakunya cepat (very fast moving). Maka manajemen penerbit perguruan tinggi perlu mengkombinasikan ketiga model ini untuk melakukan subsidi silang.

Ada lima unsur dalam bisnis buku: 1. Penerbit, 2. Penulis, 3. Percetakan, 4. Distributor, 5. Pengecer. Kelima unsur bisnis ini perlu menjalin hubungan kerjasama yang erat.

Dan pemateri ketiga: Drs. B. Rahmanto, M.Hum., dari Universitas Sanata Dharma, memberikan tips untuk menjadi penulis, adalah: 1. harus banyak membaca, karena dengan membaca ada banyak ilmu yang bisa ditulis. 2. Berhenti menulis pada saat keinginan menulis masih tinggi, karena kita harus menjaga kesehatan kita. 3. Ikhlas, karena royalti dari menulis itu kecil, kalau dilihat dari nominalnya, untuk kebutuhan sehari-hari saja tidak cukup. Tapi jangan bersedih! karena buku tersebut bisa mempunyai dampak positif pada si penulis, dengan adanya pendapatan melalui jalur-jalur lain yang tidak terduga. Seperti: Diundang sebagai pemateri dalam acara seminar/workshop, dan lain-lainnya. 4. Kalau bisa menulis sendiri itu lebih baik daripada menulis dengan orang lain, karena mempunyai nilai kredit yang lebih besar guna keperluan akademik. [ali]


Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Isian wajib ditandai *